Namun, sebuah riset terbaru dari tahun 2015 yang berjudul The Year of the Elephant mengungkapkan pandangan baru yang mengejutkan mengenai peristiwa ini. Penelitian ini dilakukan oleh John S. Marr, Elias J. Hubbard, dan John T. Cathey, peneliti sejarah dari Amerika Serikat.
Menurut penelitian mereka, kematian pasukan Abrahah mungkin tidak disebabkan oleh batu-batu panas dari burung Ababil seperti yang dikisahkan, melainkan oleh wabah penyakit.
Peneliti menunjukkan bahwa gejala tubuh pasukan yang disebutkan dalam sejarah—seperti melepuh dan bernanah—mungkin lebih sesuai dengan gejala cacar daripada luka bakar. Pada masa itu, cacar merupakan penyakit endemik di wilayah Jazirah Arab.
“Deskripsi tentang mayat-mayat yang membusuk dan menjadi seperti daun yang dimakan ulat bisa jadi merupakan metafora untuk kondisi tubuh pasukan yang hancur akibat penyakit,” ujar John S. Marr dan timnya.
Peneliti juga mencatat bahwa pada sekitar tahun 580 Masehi, wabah cacar melanda wilayah Jazirah Arab. Makkah, sebagai pusat perdagangan utama, kemungkinan terpengaruh oleh wabah ini, mengingat kota tersebut merupakan persinggahan bagi banyak pelancong dari berbagai wilayah.
