Arti Penting Hari Kartini Bagi Generasi Kini

Haidir Muhari

Reporter

Selasa, 21 April 2020  /  7:37 am

Infografis singkat RA Kartini

KENDARI, TELISIK.ID - Raden Ajeng Kartini atau RA Kartini lahir pada 21 April 1879. Ayahnya bernama Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat merupakan bangsawan dan Ibunya M.A. Ngasirah hanya seorang selir karena berasal dari kalangan rakyat biasa.

Kartini meninggal di usia yang masih sangat muda yaitu dalam usia seperempat abad, tepatnya 17 September 1904. Meninggal beberapa hari setelah melahirkan anak tunggalnya yang bernama Soesalit Djojoadhiningrat, buah pernikahannya dengan K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat.

Kurang lebih 60 puluh tahun setelah pejuang gender itu meninggal, melalui surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 108 tahun 1964 tertanggal 2 Mei 1964 Presiden Soekarno menetapkan Raden Ajeng Kartini sebagai Pahlawan Nasional.

Setelah itu setiap tanggal 21 April diperingati sebagai Hari Kartini. Ekspresi peringatannya bermacam-macam, termasuk juga para perempuan memakai kebaya dan bersanggul konde. Mengikuti gambar yang tersebar semarak.

Baca juga: Histeria Mahasiswi Indonesia di Negeri Episentrum Corona

Nama Kartini semakin mengabadi dalam lagu Ibu Kita Kartini. Dulu waktu sekolah dasar biasa sering dinyanyikan sesaat sebelum pulang. Lagu itu diciptakan oleh W.R. Supratman, yang juga menciptakan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Beberapa hal yang perlu kita teladani dari sosok beliau adalah:

  1. Teguh, tak mudah menyerah untuk mencari kebenaran. Dari kisahnya dengan Kiyai Saleh Darat menunjukkan bahwa Kartini punya semangat besar untuk mencari kebenaran. Kartini menyimak dengan penuh saksama tafsir Al Fatihah yang dibawakan oleh Kiyai Saleh Darat. Setelah pengajian itu Kartini rutin dan mendalami terjemahan Alquran yang ditulis Kiyai Saleh Darat. Kiyai Saleh Darat adalah guru dari dua tokoh besar yaitu Kiyai Haji Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah dan Kiyai Haji Hasyim Asy'ari pendiri Nahdhatul Ulama.
  2. Menolak dogma dalam meyakini sesuatu. Tidak menelan mentah-mentah apa yang didapatnya, semua perlu diverifikasi. Sikap seperti ini penting bagi kita, terlebih di era media sosial, dimana tangan lebih cepat dari otak, sehingga hoax laksana jamur di musim penghujan.
  3. Menentang kemapanan dan kesewenang-wenangan pengklasifikasian manusia dalam kelas-kelas berdasarkan alasan apapun yang sifatnya kudrati. Jenis kelamin tak boleh dijadikan alasan untuk merendahkan manusia. Bukankah setiap manusia tidak pernah memilih jenis kelaminnya? Bukankah tidak pernah memilih terlahir dari ayah dan ibu yang mana?
  4. Menguasai bahasa asing, tidak hanya bahasa lokal atau nasional. Kunci ilmu pengetahuan adalah bahasa. Dengan memahami bahasa asing, maka kita akan lebih banyak belajar sesuatu yang di luar pengetahuan kita selama ini. Kita bisa belajar mengenai dunia yang lebih luas, dengan itu wawasan menjadi luas. Apalagi di zaman kita, the mirror era, globalisasi, dunia diperangkap ke dalam layar.
  5. Pandai menulis. Seperti kata Pramoedya Ananta Toer, kau boleh pandai setinggi langit, tetapi ketika kau tidak menulis maka kau akan hilang ditelan oleh sejarah, menulis adalah bekerja untuk keabadian. Kegelisahannya dan ide-idenya dia tuliskan dalam surat-suratnya yang hari ini kita bisa pelajari, misalnya dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang.

Selamat Hari Kartini! Majulah perempuan Indonesia, majulah generasi muda Indonesia.

 

Laporan: Idi

Editor: M Nasir Idris