Bank Dunia Pangkas Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2026, Begini Reaksi Purbaya
Reporter
Jumat, 10 April 2026 / 9:18 am
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa merespons pemangkasan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh Bank Dunia tahun 2026. Foto: Repro RRI
JAKARTA, TELISIK.ID - Bank Dunia menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 dari 4,8 persen menjadi 4,7 persen. Penyesuaian ini tercantum dalam laporan East Asia and Pacific Economic Update edisi April 2026 yang menyoroti sejumlah tekanan eksternal terhadap perekonomian global.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa merespons proyeksi tersebut dengan menyebut perhitungan lembaga internasional itu belum sepenuhnya mencerminkan kondisi dan strategi ekonomi nasional. Ia menegaskan bahwa pemerintah tetap berfokus menjalankan program prioritas untuk menjaga pertumbuhan.
"Yang penting bagi kita adalah memastikan program-program yang memang baik, sistem keuangan siap untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan iklim investasi membaik," kata Purbaya di Jakarta, seperti dikutip dari Antara, Jumat (10/4/2026).
Menurut Purbaya, pemerintah terus menjaga stabilitas ekonomi melalui berbagai instrumen kebijakan, termasuk penguatan sektor keuangan dan peningkatan daya tarik investasi. Ia menyatakan optimisme bahwa pertumbuhan ekonomi akan kembali menguat seiring dengan langkah-langkah tersebut.
"Saya pikir dengan usaha seperti itu, nanti pertumbuhan ekonomi akan berbalik. Saya yakin World Bank menghitung itu karena dampak harga minyak tinggi. Kalau sebulan dari sini harga minyak turun ke level normal lagi, World Bank pasti akan berubah prediksinya," ujarnya.
Baca Juga: Hak Istimewa Pensiunan PPPK Otomatis ASN 2026, Berikut Penjelasan RPP Lengkapnya
Ia juga menyinggung bahwa pendekatan yang digunakan Bank Dunia kemungkinan belum sepenuhnya mempertimbangkan strategi pemerintahan Prabowo Subianto dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
"Mungkin World Bank belum tahu jurus-jurus rahasia (strategi ekonomi) saya, dan jurus-jurus rahasia Pak Prabowo," jelasnya.
Dalam laporannya, Bank Dunia menyebut perlambatan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dipengaruhi oleh tekanan eksternal, terutama kenaikan harga minyak global. Kondisi tersebut dinilai berdampak pada meningkatnya biaya energi serta memicu kehati-hatian investor di pasar keuangan internasional atau risk-off sentiment.
Baca Juga: Imigrasi Berlakukan WFH Jumat, Layanan Keimigrasian Tetap Beroperasi Normal
Meski demikian, Bank Dunia juga mencatat adanya faktor penyangga yang dapat membantu menjaga stabilitas ekonomi Indonesia. Pendapatan dari sektor komoditas serta berbagai inisiatif investasi yang didorong pemerintah disebut mampu meredam sebagian dampak tekanan eksternal tersebut.
Selain itu, Indonesia dinilai masih memiliki ketahanan ekonomi yang relatif baik dalam jangka pendek. Ekspor komoditas menjadi salah satu faktor yang berkontribusi dalam menjaga keseimbangan neraca perdagangan di tengah fluktuasi harga energi global.
Pemerintah melalui Kementerian Keuangan menegaskan akan terus memantau perkembangan global, termasuk pergerakan harga minyak dan dinamika pasar keuangan internasional. Langkah ini dilakukan untuk memastikan kebijakan yang diambil tetap responsif terhadap perubahan kondisi ekonomi dunia. (C)
Penulis: Ahmad Jaelani
Editor: Kardin
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS