Bukan Sekadar Ajang Jodoh, Kabuenga Kini Jadi Jalan Merawat Budaya Kapota Wakatobi
Reporter
Kamis, 27 Agustus 2026 / 4:09 pm
Kegiatan Diseminasi Karya: Festival Ayunan Kabuenga Wakatobi Ajang Perjodohan yang digelar di Aula Pertemuan Luna Garden, Kelurahan Mandati III, Kecamatan Wangi-Wangi Selatan, Kamis (27/8/2026). Foto: Ist.
WAKATOBI, TELISIK.ID - Tradisi Kabuenga yang dikenal sebagai ajang perjodohan masyarakat Kabupaten Wakatobi mulai didorong tidak sekadar menjadi sebuah perayaan budaya.
Tradisi tersebut dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya sekaligus promosi pariwisata di Kapota.
Hal itu mengemuka dalam kegiatan Diseminasi Karya: Festival Ayunan Kabuenga Wakatobi Ajang Perjodohan yang digelar di Luna Garden, Kelurahan Mandati III, Kecamatan Wangi-Wangi Selatan, Kabupaten Wakatobi, Kamis (27/8/2026).
Kegiatan tersebut menjadi ruang berbagi dan refleksi atas pelaksanaan Festival Kabuenga, sekaligus membahas bagaimana event budaya dapat menjadi sarana pelestarian, promosi, dan pengembangan potensi budaya Kapota.
Asisten I Kabupaten Wakatobi, Bakri, yang membuka kegiatan tersebut, mengapresiasi Kapota Maliga yang dinilainya menjadi salah satu pionir dalam upaya pelestarian kebudayaan.
Baca Juga: Universitas Pelita Ibu dan Desa Wawolaa Konawe Kepulauan Kolaborasi Kembangkan Desa Binaan
Ia juga memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan Kabuenga Wa Sinta yang digelar dalam rangkaian kegiatan selama tujuh hari dengan puncak kegiatan pada 5 April 2026 lalu.
“Upaya masyarakat Kapota Maliga dalam menghadirkan dan menghidupkan kembali tradisi Kabuenga ini patut kita apresiasi. Ini merupakan bagian penting dari ikhtiar bersama untuk menjaga kebudayaan daerah agar tetap hidup dan terus diwariskan,” ujar Bakri.
Menurutnya, keberadaan event budaya dapat menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan tradisi kepada masyarakat secara lebih luas, termasuk kepada generasi muda.
Sementara itu, Direktur AKKP Wakatobi, Dr. Arham Rumpa, S.St.Pi., M.Si., menyampaikan kesiapan institusinya untuk menjadi mitra berbagai pihak dalam mengembangkan dan mempromosikan potensi budaya, khususnya yang dimiliki Kapota.
“Pengembangan kebudayaan tidak bisa berjalan sendiri. Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, masyarakat, lembaga adat dan komunitas agar potensi budaya yang ada dapat terus dikembangkan dan dipromosikan,” katanya.
Ketua sekaligus inisiator Kapota Maliga, Nasrun M.S.C., mengatakan kegiatan diseminasi tersebut difasilitasi melalui Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan dan LPDP.
Menurutnya, dukungan tersebut membuka ruang bagi masyarakat untuk tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga mengembangkan gagasan dan karya kebudayaan agar memiliki dampak yang lebih luas.
“Yang kita lakukan hari ini bukan sekadar menceritakan kembali apa yang sudah dilakukan. Kita ingin pengalaman dari Festival Kabuenga menjadi pengetahuan, menjadi pembelajaran, dan kemudian bisa dikembangkan untuk menjaga kebudayaan Kapota ke depan,” ujar Nasrun.
Ia menambahkan, Festival Kabuenga merupakan contoh bagaimana tradisi yang hidup di tengah masyarakat dapat dikemas menjadi sebuah event tanpa menghilangkan nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
“Tradisi tidak cukup hanya disimpan dan dikenang. Ia harus terus dirawat, diperkenalkan kepada generasi muda, dan diberi ruang untuk berkembang sesuai dengan zaman,” katanya.
Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi yang menghadirkan sejumlah pemangku kepentingan, di antaranya perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Wakatobi, La Aliwangi, S.Pd., M.Si., Lembaga Adat Kesultanan Buton, LAKB Kadie Kapota, Ir. Nur Siddiq serta perwakilan Kapota Maliga, Ahmad Rizal, S.I.Kom.
Diskusi membahas dampak penyelenggaraan event budaya, strategi mengemas tradisi menjadi sebuah event, promosi kebudayaan serta pengembangan potensi budaya Kapota.
Festival Kabuenga menjadi salah satu contoh bagaimana tradisi masyarakat dapat dikemas dalam bentuk event agar memiliki ruang yang lebih luas untuk dikenal masyarakat.
Pembahasan tidak hanya melihat Kabuenga dari sisi tradisi perjodohan, tetapi juga dari potensinya dalam memperkuat identitas budaya, mempromosikan Kapota, mengembangkan pariwisata serta memperkenalkan kebudayaan kepada generasi muda.
Baca Juga: Damkar Muna Padamkan Karhutla di Kontukowuna
Kegiatan tersebut juga dirangkaikan dengan penandatanganan Piagam Komitmen Bersama Pelestarian Kebudayaan Kapota oleh berbagai pihak, mulai dari unsur pemerintah, akademisi, lembaga adat, pemerintah desa hingga komunitas.
Penandatanganan tersebut menjadi bentuk kesepahaman untuk memperkuat kolaborasi dan memastikan pelestarian kebudayaan Kapota menjadi agenda bersama.
Diseminasi turut diikuti lembaga adat, taruna dan taruni KKP Wakatobi, pemerhati kebudayaan, masyarakat Kapota, guru dan tenaga pendidik, Dinas Pariwisata Kabupaten Wakatobi serta berbagai unsur lainnya.
Melalui kegiatan tersebut, Festival Kabuenga diharapkan tidak berhenti sebagai event yang selesai setelah pelaksanaan. Pengalaman dan pembelajaran dari penyelenggaraannya dapat menjadi pijakan untuk pengembangan kegiatan budaya berikutnya.
Dengan demikian, Kabuenga tidak hanya diposisikan sebagai tradisi perjodohan masyarakat masa lalu, tetapi juga sebagai bagian dari identitas budaya Kapota yang dapat dikembangkan melalui pariwisata, kreativitas masyarakat dan pengenalan budaya kepada generasi muda. (A)
Penulis: Zulkifli Herman Tumangka
Editor: Mustaqim
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS