Cerita Seram Sekte Sesat Takut Kiamat Bakar 700 Orang dalam Gereja, Diklaim Bisa Dihidupkan
Reporter
Kamis, 09 April 2026 / 10:23 am
Tragedi sekte di Uganda menewaskan ratusan pengikut setelah janji kiamat tak pernah terjadi. Foto: Repro BBC
KAMPALA, TELISIK.ID - Peristiwa tragis yang melibatkan sebuah sekte keagamaan kembali menjadi perhatian publik setelah kisahnya mencuat melalui berbagai laporan investigasi internasional.
Kasus ini menyingkap praktik kepercayaan ekstrem yang berujung pada kematian ratusan orang dalam satu insiden memilukan di Uganda.
Sorotan terhadap sekte-sekte menyimpang semakin menguat seiring munculnya dokumentasi dan laporan yang mengurai pola manipulasi terhadap pengikut. Dalam sejumlah kasus, pemimpin sekte memanfaatkan keyakinan spiritual untuk mengontrol, bahkan mengorbankan para anggotanya.
Di tengah perhatian tersebut, publik kembali diingatkan pada tragedi yang terjadi pada awal tahun 2000, ketika ratusan orang tewas dalam kebakaran di sebuah gereja yang diduga berkaitan dengan ajaran kiamat sebuah sekte.
Peristiwa ini menjadi salah satu contoh paling ekstrem tentang bagaimana keyakinan yang dibangun tanpa kontrol dapat berujung fatal, terutama ketika pengikut sepenuhnya menyerahkan keputusan hidup mereka kepada pemimpin kelompok.
Baca Juga: Mistik: Bus Mogok di Alas Roban, Penumpang Masuk Warung Jin dan Dikejar Pocong Terbang
Latar Belakang Sekte dan Pemimpinnya
Melansir dari Detik, Kamis (9/4/2026), sekte yang dimaksud bernama Movement for the Restoration of the Ten Commandments of God. Kelompok ini didirikan oleh Joseph Kibwetere dan Cledonia Mwerinde, yang memiliki latar belakang berbeda namun sama-sama berperan dalam membangun struktur organisasi.
Kibwetere dikenal sebagai mantan petugas administrasi sekolah yang memiliki ketertarikan mendalam terhadap ajaran Sepuluh Perintah Tuhan. Sementara itu, Mwerinde merupakan seorang pengusaha yang kemudian aktif dalam aktivitas keagamaan kelompok tersebut.
Gerakan ini secara resmi mengusung misi untuk menghidupkan kembali kepatuhan terhadap Sepuluh Perintah Allah serta menyebarkan ajaran Yesus Kristus. Namun dalam praktiknya, ajaran yang berkembang cenderung menyimpang dari doktrin utama agama Kristen.
Pola Ajaran dan Praktik Internal
Dalam menjalankan aktivitasnya, sekte ini menerapkan aturan yang ketat terhadap para pengikut. Komunikasi langsung dengan pemimpin dibatasi; para anggota diwajibkan menuliskan pesan mereka melalui kertas.
Selain itu, pemimpin sekte diklaim memiliki kemampuan supranatural, termasuk kemampuan menghidupkan kembali orang yang telah meninggal. Keyakinan ini memperkuat ketergantungan pengikut terhadap figur pemimpin.
Struktur kepemimpinan juga melibatkan sejumlah mantan tokoh keagamaan, termasuk mantan imam dan biarawati. Hal ini memberikan legitimasi tambahan di mata pengikut, meskipun ajaran yang disampaikan telah mengalami pergeseran signifikan.
Prediksi Kiamat dan Perubahan Tanggal
Salah satu ajaran utama sekte ini adalah keyakinan bahwa dunia akan berakhir pada 31 Desember 1999. Prediksi tersebut berkaitan dengan pergantian milenium yang dianggap sebagai momen penting secara spiritual.
Namun ketika tanggal tersebut berlalu tanpa peristiwa yang dimaksud, pemimpin sekte kemudian merevisi prediksi kiamat menjadi 17 Maret 2000. Perubahan ini tetap diyakini oleh para pengikut yang telah menyerahkan harta dan hidup mereka kepada kelompok.
Situasi ini menunjukkan adanya dinamika internal yang tetap mempertahankan loyalitas anggota, meskipun prediksi sebelumnya tidak terbukti.
Tragedi Kebakaran di Kanungu
Pada Maret 2000, sekte tersebut menggelar pertemuan besar di sebuah gereja di wilayah Kanungu, Uganda. Acara tersebut awalnya dikemas sebagai perayaan keagamaan yang dihadiri ratusan pengikut.
Baca Juga: Mualaf Lokal: Cuma Ingin Ubah Rutinitas, Pria Kendari Ini Malah Ucapkan Dua Kalimat Syahadat
Namun, peristiwa berujung tragis ketika kebakaran melanda gereja tersebut. Sebanyak 724 orang dilaporkan tewas dalam insiden tersebut, termasuk para pemimpin sekte.
Pihak berwenang kemudian melakukan penyelidikan dan menduga adanya unsur kesengajaan dalam kejadian tersebut. Salah satu dugaan menyebutkan bahwa para pengikut mengalami tekanan setelah menyerahkan seluruh harta mereka kepada sekte.
Peristiwa ini menjadi catatan kelam dalam sejarah keagamaan modern, sekaligus menjadi pengingat tentang risiko yang muncul dari praktik kepercayaan yang tidak diawasi secara kritis. (C)
Penulis: Ahmad Jaelani
Editor: Kardin
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS