Kordok Mozzarella jadi Jajanan Favorit, Bertahan di Tengah Persaingan UMKM

Erni Yanti

Reporter

Kamis, 27 Agustus 2026  /  8:52 am

Aktivitas pelanggan saat membeli jajanan di gerai Aisyah Street Food, Kendari. Foto: Erni Yanti/Telisik

KENDARI, TELISIK.ID - Persaingan usaha kuliner yang semakin ramai tidak membuat Eka (35), berhenti mengembangkan usahanya.

Mengandalkan cita rasa dan tampilan yang khas, ia terus mempertahankan usaha jajanan kekinian yang kini berjualan di kawasan kuliner eks MTQ Kendari.

Eka mengatakan, salah satu strategi yang diterapkan untuk menghadapi persaingan adalah menghadirkan ciri khas pada produk yang dijual. Menurutnya, pelaku usaha tidak bisa hanya menjual produk yang sama tanpa memiliki pembeda.

“Mungkin lebih ke rasa, karena tidak mungkin kita bisa berjalan dengan jualan yang sama semua. Jadi selalu ada khas, baik dari rasa maupun dari tampilan,” ujarnya

Usaha tersebut sebelumnya berjualan di kawasan luar MTQ, tepatnya di area trotoar. Namun, karena adanya aturan yang melarang aktivitas berjualan di trotoar, Eka kemudian memindahkan usahanya ke area dalam MTQ, tempat para pengunjung datang menikmati waktu santai

Di tempat tersebut, Eka menawarkan sejumlah jajanan kekinian, di antaranya kordok, tepes, kentang tirang dan crepes. Dari beberapa menu tersebut, kordok menjadi salah satu yang paling banyak diminati pelanggan.

Baca Juga: BBM Subsidi Paksa Warga Kendari Rela Antre 4 Jam di SPBU

Kordok yang dijual Eka memiliki isian keju mozzarella dan daging, sehingga memberikan cita rasa gurih dan menjadi daya tarik tersendiri bagi pelanggan.

“Kalau yang paling disukai di sini kordok. Isinya keju mozzarella sama daging,” katanya.

Menurut Eka, konsumennya berasal dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak, anak muda hingga orang tua. Hal itu karena jajanan kekinian kini tidak hanya menjadi pilihan makanan, tetapi juga menjadi bagian dari aktivitas bersantai bersama keluarga.

Untuk operasional, Eka mulai membuka lapak sekitar pukul 15.00 Wita atau 16.00 Wita dan bertahan hingga tengah malam. Namun, waktu tutup tidak selalu sama karena bergantung pada ketersediaan adonan dan jumlah pembeli.

“Pokoknya sampai habisnya orang atau sampai habis adonannya. Adonannya setiap hari dibuat fresh, nanti di sini baru kita goreng,” jelasnya.

Tingginya minat pelanggan bahkan membuat dagangannya terkadang habis sebelum tengah malam. Eka menyebut, pada salah satu hari, persediaan dagangannya sudah habis sekitar pukul 22.00 Wita.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa jajanan yang dijualnya mulai dikenal dan memiliki pelanggan tersendiri. Selain mengandalkan rasa, keberadaan kawasan kuliner yang nyaman juga dinilai penting untuk mendukung keberlangsungan UMKM.

Eka berharap kawasan tempatnya berjualan dapat terus dikembangkan dengan fasilitas yang menunjang aktivitas masyarakat.

Baca Juga: Sanya Swalayan Kendari Buka Lowongan Kerja, Cek Syaratnya

Menurutnya, konsumen saat ini tidak hanya mencari makanan, tetapi juga tempat yang nyaman untuk berkumpul bersama keluarga.

“Orang sekarang mencari tempat yang bisa bawa anak untuk santai, anaknya aman, sudah ada tempat bermainnya, dan bisa makan sambil kumpul-kumpul sama keluarga,” tuturnya.

Salah seorang karyawan, Rehan mengatakan, pelayanan kepada pelanggan menjadi salah satu hal yang terus dijaga.

Ia membantu menyiapkan pesanan dan melayani pembeli yang datang, terutama saat suasana mulai ramai pada sore hingga malam hari.

Sementara itu, salah seorang pelanggan, Niar, turut mencoba salah satu menu yang dijual.

"Biasa kalau kita mau santai ke MTQ, banyak jajanan, salah satunya disini (sembari tersenyum) memang ada khas rasa tersendiri," ujarnya. (A)

Penulis: Erni Yanti

Editor: Kardin

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS