Masa Kecil Direnggut Perang, Anak-anak Gaza Temukan Kebahagiaan saat Bermain di Laut

Ahmad Jaelani, telisik indonesia
Rabu, 26 Agustus 2026
0 dilihat
Masa Kecil Direnggut Perang, Anak-anak Gaza Temukan Kebahagiaan saat Bermain di Laut
Anak-anak bermain dalam sebuah acara renang yang diikuti oleh sekitar 1.300 anak di sebuah pantai di Khan Younis, Jalur Gaza selatan. Foto: Rizek Abdeljawad/Xinhua

" Anak-anak Gaza mengikuti kegiatan renang di Khan Younis untuk menikmati masa kanak-kanak setelah bertahun-tahun hidup dalam bayang-bayang perang "

YERUSALEM, TELISIK.ID - Anak-anak Gaza mengikuti kegiatan renang di Khan Younis untuk menikmati masa kanak-kanak setelah bertahun-tahun hidup dalam bayang-bayang perang.

Bagi Camelia Hadi, tujuh tahun, berenang bukan sekadar aktivitas olahraga. Di tengah kehidupan yang berubah akibat perang, bermain di laut menjadi kesempatan untuk tertawa, belajar, dan merasakan kembali kehidupan sebagai seorang anak.

Tawa Hadi terdengar ketika ia berenang bersama puluhan anak lainnya di perairan dekat pantai Khan Younis, Jalur Gaza selatan, pada 21 Agustus 2026. Selama beberapa jam, ia dapat bermain air dan belajar berenang bersama teman-temannya.

Momen tersebut menjadi pengalaman yang jarang diperoleh Hadi sejak perang dimulai pada Oktober 2023. Ketika perang pecah, usianya baru empat tahun dan keluarganya kemudian kehilangan rumah.

Sejak saat itu, Hadi telah mengungsi lebih dari 20 kali. Kondisi tersebut membuatnya harus menjalankan sejumlah tanggung jawab yang tidak biasa dilakukan anak seusianya, termasuk membantu keluarga memperoleh air dan roti.

"Saat berada di sini, saya merasa seperti anak-anak pada umumnya. Saya tertawa, bermain, dan belajar berenang. Saya berharap kami selalu bisa ke laut dan hidup tanpa rasa takut," kata Hadi, seperti dikutip dari Xinhua, Rabu (26/8/2026).

Baca Juga: Bukan Manusia, Robot Humanoid Kini Lebih Cepat dari Rekor Usain Bolt di Lari 100 Meter

Hadi merupakan salah satu dari ratusan anak yang mengikuti kegiatan "Swim With Gaza" atau Berenang Bersama Gaza. Program tersebut digelar Akademi Renang Tantish yang berbasis di Gaza dan berlangsung hingga akhir Agustus.

Kegiatan itu memberikan ruang bagi anak-anak untuk mengikuti olahraga dan rekreasi, sekaligus mempelajari keterampilan berenang. Program tersebut juga menjadi salah satu kegiatan untuk membantu mereka menjalani aktivitas yang lebih normal setelah bertahun-tahun menghadapi perang.

Sekitar 1.300 anak mengikuti salah satu kegiatan renang yang digelar di sebuah pantai di Khan Younis pada 21 Agustus 2026. Para peserta terlihat bermain dan mengikuti latihan renang bersama para pelatih.

Farah Hassan Abu Halima, 11 tahun, termasuk peserta kegiatan tersebut. Ia mengaku sempat merasa takut dan cemas sebelum mengikuti kelas renang.

"Awalnya, saya merasa takut dan cemas, tetapi ketika mendengar tentang kursus-kursus tersebut, saya terdorong untuk mendaftar," tutur Halima.

Perasaan tersebut berubah setelah Halima tiba di lokasi kegiatan. Ia menemukan suasana yang membuatnya lebih nyaman untuk mengikuti latihan bersama anak-anak lainnya.

"Ketika tiba di sana, saya mendapati suasana yang luar biasa. Para pelatih renang dan kegiatan-kegiatan yang ada membuat kami bahagia dan membangkitkan semangat kami," ujarnya.

Kepala Akademi Renang Tantish, Amjad Tantish, mengatakan lebih dari 2.500 anak telah mengikuti pembelajaran renang sejak musim ini dimulai pada Juni 2026.

Program tersebut diluncurkan kembali setelah sempat ditangguhkan selama perang. Menurut Tantish, kegiatan "Swim With Gaza" juga mendapat dukungan peserta di puluhan lokasi di berbagai negara sebagai bentuk solidaritas terhadap anak-anak Gaza.

"Latihan renang ini bukan hanya soal olahraga. Kegiatan ini memberikan anak-anak kesempatan untuk bermain, bersenang-senang, dan melepaskan diri sejenak dari kondisi yang berat di sekitar mereka," kata Tantish.

Menurut Tantish, kemampuan berenang juga memiliki manfaat praktis bagi anak-anak di Gaza karena banyak dari mereka tinggal atau menghabiskan waktu di kawasan yang berdekatan dengan laut.

Ia juga mengatakan kegiatan tersebut menjadi bentuk penghormatan kepada enam instruktur renang yang meninggal selama perang, termasuk saudara laki-lakinya.

Kebutuhan terhadap kegiatan rekreasi bagi anak-anak Gaza berkaitan dengan kondisi yang mereka alami selama perang. Menurut kantor media pemerintah Gaza yang dikelola Hamas pada Juli, lebih dari 21.500 anak Palestina telah tewas sejak Oktober 2023.

Anak-anak lainnya mengalami luka, kehilangan orang tua, menjadi yatim piatu, atau harus meninggalkan tempat tinggal mereka akibat konflik yang berlangsung.

Direktur rumah sakit jiwa Gaza, Abdullah al-Jamal, menggambarkan kondisi psikologis anak-anak di Gaza sebagai "sangat parah". Ia mengatakan banyak anak mengalami gangguan terkait perang dengan tingkat sedang hingga parah.

"Anak-anak merasa tidak aman dan takut, yang berdampak negatif terhadap kehidupan mereka serta berisiko menimbulkan trauma dan gangguan jangka panjang," ungkap al-Jamal.

Sebuah survei pada 2024 juga menunjukkan 96 persen anak-anak dalam rumah tangga yang disurvei di Gaza merasa kematian sudah dekat. Sebanyak 92 persen lainnya disebut mengalami kesulitan menerima kondisi kehidupan mereka yang berubah.

Bagi Ismail Qudaih, 12 tahun, berenang menjadi kesempatan untuk sejenak menjauh dari kenangan perang. Anak asal Khan Younis itu kehilangan ibu dan tiga saudara kandungnya akibat perang.

Baca Juga: Malaysia Terpapar Asap Karhutla Kalimantan, Kasus Asma dan ISPA Naik Lebih dari 2 Kali Lipat

"Ketika saya masuk ke dalam air, saya merasa berbeda. Untuk sementara, saya berhenti memikirkan perang dan segala hal yang menimpa keluarga saya. Saya bisa berenang, bermain, dan tertawa bersama anak-anak lainnya," ujar Qudaih.

Ayahnya, Ibrahim Qudaih, melihat perubahan tersebut dari senyum yang kembali muncul di wajah putranya ketika mengikuti kegiatan renang.

"Anak-anak di Gaza membutuhkan tempat di mana mereka bisa merasa aman dan sekadar menjadi anak-anak. Mereka perlu bermain, berolahraga, tertawa, dan bertemu dengan anak-anak lain," kata Ibrahim.

Menurut dia, aktivitas tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi memiliki arti bagi anak-anak yang telah kehilangan anggota keluarganya dan menghadapi pengalaman perang sejak usia dini.

Kegiatan "Swim With Gaza" menjadi salah satu ruang bagi anak-anak untuk berolahraga, bermain, serta berinteraksi dengan teman sebaya. Di tengah situasi perang yang membatasi banyak aktivitas, mereka mendapat kesempatan untuk menikmati waktu di laut dan belajar berenang.

Bagi Hadi dan anak-anak lainnya, beberapa jam di pantai memberikan kesempatan untuk melakukan hal-hal sederhana yang semestinya menjadi bagian dari masa kanak-kanak: bermain, tertawa, belajar, dan berada bersama teman-teman sebaya. (Xinhua)

Penulis: Ahmad Jaelani

 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Artikel Terkait
Baca Juga