Waspada Karhutla, BMKG Deteksi 100 Titik Panas di Sulawesi Tenggara
Reporter
Kamis, 27 Agustus 2026 / 2:54 pm
Monitoring BMKG mengungkap terdapat 100 sebaran titik panas di wilayah Sulawesi Tenggara yang dapat memicu karhutla. Foto: CNBC Indonesia
KENDARI, TELISIK.ID - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 100 titik panas (hotspot) terdeteksi di wilayah Sulawesi Tenggara (Sultra) pada Rabu, 26 Agustus 2026, berdasarkan pemantauan satelit periode pukul 00.00 Wita hingga 23.00 Wita.
Data BMKG menunjukkan, dari total 100 titik panas tersebut, sebanyak 96 titik berada pada tingkat kepercayaan menengah, sedangkan empat titik berada pada tingkat kepercayaan rendah. Tidak terdapat titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi dalam pemantauan tersebut.
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Sultra, Kusairi menjelaskan, pemantauan titik panas dilakukan menggunakan data satelit polar seperti NOAA-20, Suomi NPP, Terra, dan Aqua. Data tersebut digunakan untuk mengidentifikasi wilayah yang memiliki anomali suhu permukaan yang lebih tinggi dibandingkan lingkungan sekitarnya.
“Pemantauan titik panas merupakan salah satu upaya untuk mengidentifikasi wilayah yang berpotensi mengalami kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Namun, keberadaan titik panas tidak serta-merta menunjukkan bahwa telah terjadi kebakaran,” jelas Kusairi dalam keterangan resminya, Kamis (27/8/2026).
Baca Juga: Infografis: Anggaran Penanganan Karhutla Kalimantan 2026
Berdasarkan sebarannya, Kabupaten Konawe menjadi wilayah dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni 36 titik, terdiri atas dua titik dengan tingkat kepercayaan rendah dan 34 titik dengan tingkat kepercayaan menengah.
Selanjutnya, Kabupaten Muna tercatat memiliki 19 titik panas, seluruhnya dengan tingkat kepercayaan menengah. Kemudian Kolaka Timur sebanyak 10 titik, Buton Utara 7 titik, dan Muna Barat 6 titik.
Sementara itu, masing-masing Bombana, Konawe Selatan, Konawe Utara, dan Wakatobi terpantau 4 titik panas. Kolaka tercatat tiga titik, Buton dua titik, serta Kota Kendari satu titik.
Adapun wilayah yang tidak terdeteksi titik panas dalam pemantauan tersebut yakni Kota Baubau, Buton Selatan, Buton Tengah, Kolaka Utara, dan Konawe Kepulauan.
BMKG mengingatkan bahwa titik panas dapat digunakan sebagai indikator awal untuk mendeteksi potensi kebakaran hutan dan lahan. Namun, hasil pemantauan satelit tetap perlu dikonfirmasi dengan kondisi di lapangan karena titik panas dapat tidak terpantau apabila suatu wilayah tertutup awan atau berada di area blank zone.
Baca Juga: Merasa Layak Dapat Bansos, Begini Cara Mengubah Data Desil
Informasi tersebut menjadi penting di tengah kondisi kemarau yang masih berlangsung di banyak wilayah Indonesia. BMKG sebelumnya menyampaikan bahwa kondisi kering yang semakin meluas turut meningkatkan kerentanan terhadap kekeringan dan kejadian kebakaran hutan dan lahan di sejumlah daerah.
Masyarakat, khususnya di wilayah yang memiliki sebaran titik panas cukup tinggi, diimbau meningkatkan kewaspadaan dan menghindari aktivitas yang dapat memicu terjadinya kebakaran lahan.
BMKG juga terus melakukan pemantauan sebaran titik panas melalui pengamatan satelit sebagai bagian dari upaya mendukung mitigasi dan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan di Sultra. (C)
Penulis: Wa Ode Marfat
Editor: Kardin
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS