Bahkan, beberapa pembantu Presiden Prabowo bernilai sikapnya arogansi, sebut beberapa nama seperti Gus Miftah yang mengumumkan mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Utusan Khusus Presiden Bidang Kerukunan Beragama dan Pembinaan Sarana Keagamaan. Pengunduran diri Gus Miftah karena perilaku arogannya yang viral dalam video dirinya menampilkan Miftah menghina penjual es teh saat mengisi pengajian di Magelang dan Video lawasnya merendahkan pelawak senior Yati Pesek (Tempo.co, 8 Desember 2024).
Arogansi kedua juga diperlihatkan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Mendikti Saintek) Satryo Soemantri Brodjonegoro yang didemo oleh pegawainya sendiri, terkait sikap arogansinya yang melakukan mutasi besar-besaran terhadap Aparatur Sipil Negara (ASN) di kementeriannya. Sikap kurang terpuji juga ditunjukkan Wakil Kepala Staf Kepresidenan, M. Qodari dengan aksi telatnya saat mengunjungi sebuah sekolah untuk memantau MBG. Akibatnya, para siswa terpaksa harus menahan lapar hingga satu jam (inilah.com, 26 Januari 2025).
Terjerat Polemik “Janji Politik” dan Beban Masa Lampau
Presiden Prabowo tampak langsung bekerja cepat dengan mewujudkan janji politiknya berupa program MBG. Hanya saja, Program MBG langsung memicu berbagai kritik sejak dilakukan serentak pada 6 Januari di 26 provinsi dari 38 provinsi di Indonesia. Isu utamanya berkisar anggaran jumbo, kualitas menu, distribusi yang bermasalah, keracunan makanan, hingga potensi bancakan beberapa pihak. Program ambisius ini malah tampak ketidaksiapan dalam pelaksanaannya di lapangan, bahkan dipertanyakan keberlanjutannya karena terkait dengan anggaran jumbo yang mesti dikeluarkan.
Harus diakui bahwa program ini juga malah berkutat pada banyak polemik yang menyertai seperti program ini membutuhkan dana jumbo sehingga kreasi pendanaan pun dimunculkan dari yang masuk akal hingga yang mengerutkan dahi masyarakat, seperti program MBG pembiayaannya diusulkan melalui zakat, infak, dan sedekah (ZIS), dana sitaan dari koruptor, dan cukai rokok, bahkan kini adanya usulan pemerintah memanfaatkan dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) untuk mendanai program unggulan Presiden Prabowo.
