Selain itu, Dosen Universitas Halu Oleo (UHO) ini melanjutkan, bagaimana penyelenggara pemilu juga harus mengubah pola pikir pemilih di Sultra yang memang masih sangat mengharapkan semua kampanye dilakukan secara offline atau tatap muka.
Maslah ini bukan hanya terjadi pada pemilih tradisional saja, termasuk tim dari kompetitor yang ada masih menganggap bahwa mereka lebih punya peluang ketika melakukan berbagai strategi kemenangan saat kampanye tatap muka dibanding online.
"Penyelenggara pemilu harus berusaha untuk mulai memperkenalkan tahap-tahapan pemilu dalam bentuk virtual, bukan lagi bentuk oflline," lanjutnya.
Apalagi, tambah dia, saat ini belum ada regulasi yang dibuat oleh KPU, sehingga penyelenggara pemilu terlihat masih meraba-raba terkait model kampanye yang akan ditetapkan untuk para kandidat.
"Ini yang menjadi tugas KPU dan Bawaslu, sebab kita tidak inginkan ada satu suara pun yang harus dikorbankan pada pemilu 2020 nanti," tutupnya.
