Celakanya, jika kebudayaan itu seperti dikemukakan oleh budayawan Mochtar Lubis tentang sifat atau ciri manusia Indonesia dalam ceramahnya di TIM Jakarta, 6 April 1977. Dalam cermatan Lubis, satu-satunya yang baik cuma Artistik atau berbakat seni.

Selebihnya munafik atau hipokrit, yang di antaranya menampilkan dan menyuburkan sikap ABS (Asal Bapak Senang); Enggan dan segan bertanggungjawab atas perbuatanya; Bersikap dan berperilaku feodal; Percaya takhayul, dan Lemah watak atau karakter.

Dalam membahas ABS, Lubis menulis, “Sikap manusia munafik seperti ini yang memungkinkan korupsi begitu hebat berlangsung terus menerus. (“Manusia Indonesia, Sebuah Pertanggungjawaban, 2017: 19).

Padahal, suatu kebiasaan yang akut bertahan, kemudian mewujud dalam kebudayaan atau membudaya, jelas akan sangat sulit menghapusnya. Antropolog UI, Ali Akbar ketika membahas pidato Lubis dalam buku “9 Ciri Negatif Manusia Indonesia”. “Ciri buruk yang kini dimiliki, berdasarkan konsep kebudayaan, akan diturunkan dari generasi ke generasi…,” tulisnya (2011: 144).        

Secara psikologis, Rusli Nasrullah dalam “Komunikasi Antabudaya di Budaya Cyber” menulis, Geert Hofstede memopulerkan, “Budaya bukan sekadar respons dari pemikiran atau ‘programing of the mind”, melainkan juga sebagai respons dari interaksi antarmanusia yang melibatkan pola-pola tertentu sebagai anggota kelompok  dalam merespons lingkungan tempat manusia berada. (2012: 16).