Rangkaian pemikiran-pemikiran tersebut, sangat jelas menggambarkan peringatan, akan adanya pengaruh-pengaruh satu sama lain dalam interaksi di suatu kelompok atau institusi yang menjadi lingkungan. Tentu dalam hal ini, akan berlaku pengaruh siapa paling kuat mendominasi yang lain. Celakanya, ketika kebiasaan buruk membulat jadi kebudayaan.
Terbayang, bila keburukan demi keburukan yang “terkembang-biakan” dalam sebuah lingkungan, hanya lantaran ketidakberanian untuk proporsional atau bahkan menyanggah terang-terangan pada “patuh dan taat pada atasan” (baca: ini juga budaya), perilaku macam apa yang bakal terbangun.
Sebaik apa pun kualitas pendidikkan, “lingkungan” dalam balutan kuat “patuh dan taat pada atasan” (baca: kultur kerja), maka keteladanan berbasis kejujuran sangat menentukan level profesionalitas setiap anggota di dalamnya.
Lingkungan institusi bukan cuma tempat pembuktian kerja-kerja profesional. Ia juga menjadi sumber nafkah diri dan keluarga anggota yang membutuhkan kesungguhan, jauh dari kepalsuan. Jadi yang dibutuhkan, bukan sekadar tidak bergaya hedosnitik, tapi memang sungguh-sungguh tidak hedon. Luar dalam asli, mulai dari rumah, di kantor, sampai di mata masyarakat.
Polri profesional, bukan institusi Polri yang diisi oleh –meski cuma satu dua orang-- sosok-sosok yang lihai bersiasat ketika menyidik. Melainkan, ia dipenuhi oleh sosok-sosok bermoral, cerdas, dan tegas menyikapi secara proporsional ketika berhadapan dengan kehendak “patut dan taat pada perintah atasan.” Juga, Bukan berbuat “yang penting semua pihak senang” atau ABS kepada atasan
