Secara konkret menyahuti pergantian tahun, agaknya, yang paling tepat adalah dengan perubahan. Basisnya, koreksi diri sehingga dapat melangkah ke depan lebih optimis ketimbang sebelum-sebelumnya. Memetik hikmah dari sejarah!
Puisi “Selamat Tahun Baru” karya pengasuh pesantren “Raudiatuth Tholibin” Tawangsari, Leteh, Rembang, Jateng, terasa pas nian. Tak sekadar lugas mengena, tetapi juga indah dan menyentuh. Subjektif? Pastilah! Bukankah tak jarang untuk menemukan objektivitas, manusia memulainya dari sudut subjektif? Tentu, tidak liar.
Menjadi persoalan kemudian, ketika ajakan korektif ”Kawan siapakah kita ini sebenarnya?” tinggal bak lolong anjing ruang hampa pada malam-malam buta. Mengorek rasa, meresap, lantas substansi pesannya ditinggal terpuruk bagai bengkalai. Kemudian yang terwujud malah sama saja dengan tahun-tahun sebelumnya, jalan di tempat, atau -amat celaka bila lebih buruk daripada masa lalu.
Bisa terjadi begitu, penyebabnya macam-macam. Satu hal yang kerap tak disadari paling menghambat adalah resistensi atau rasa penolakan yang jauh lebih kuat daripada tuntutan perubahan, cuma lantaran “rasa senang” membangun “kemapanan” nan pantang diusik.
Padahal, tanpa disadari, sesungguhnya kubangan kemapanan yang tengah dinikmati, tertinggal jauh dari kemaslahatan yang sangat mungkin dapat digapai bila tak abai. Bahkan, bisa saja tersapu oleh tuntutan memenuhi jawaban yang akan dijangkau. Pepatah lama “burung terbang diharapkan, punai di tangan dilepaskan” yang seharusnya membuat diri menjadi lebih bijak, malah terus membayang tak proporsional.
