Lebih celakanya lagi, ketika sebuah kepemimpinan takut terusik kemapanannya, dan tampil dengan baju kepalsuan mengatasnamakan kepentingan bersama. Padahal, menjadi pemimpin bukanlah untuk menyenangkan semua pihak. Di setiap perubahan, risiko adalah sesuatu yang pasti. Tinggal lagi “irama yang dilantunkan” tak boleh hanyut oleh “lagu kemapanan.”
Puisi Gus Mus, sapaan akrab Ahmad Mustofa Bisri, bermuatan koreksi. Koreksi hendaklah dipahami bagi diri pribadi, yaitu bisa pribadi dalam institusi, selain tentu institusi itu sendiri. Menerobos apa pun sekat; bangsa, etnis, budaya, agama, pribadi, atau kelompok. Koreksi menjadi begitu penting untuk melangkah ke depan dengan lebih optimistik.
Tulisan ini coba menyoroti Polri yang kini berada di tengah mengemukanya “peristiwa besar dan pahit” mencerderai masyarakat sang pemilik sejati Polri. Dapat disebutkan, antara lain, terbunuhnya seorang bintara oleh jenderal bintang dua atasan yang amat dekat dengannya.
Catatan pentingnya, ini bukan sekadar peristiwa sekadar karena si jenderal beserta istrinya dan polisia lainnya (para perwira tinggi, menengah, pertama, bintara, dan tamtama yang terbuang dari posisi terhormatnya sebagai polisi/ penegak hukum), melainkan ada kewajiban Polri secara terbuka mengakui “motif sebenarnya di balik peristiwa penembakan di Komplek Rumah Polri Duren itu.
Sebab, ini bukan tembak menembak seperti semula disekenariokan oleh si jenderal. Sungguh ada aroma yang sangat jauh dari proporsional ketika atasan atau bawahan memahami “Patut dan taat pada atasan.”
