Selain itu, Ia juga menulis buku “Seni Budaya Golok Banten”, menseminarkannya, dan mengirim utusan ke Belanda. Yang terakhir ini adalah dalam rangka mendukung Provinsi Banten mendapatkan pengakuan dunia atas “Golok Banten” sebagai bagian dari kekayaan dunia dari Unesco (Badan Pendidikan dan Kebudayaan PBB).      

Menyebut nama-nama yang mungkin saja muncul menyusul pensiunnya ketiga pejabat teras Polri tadi, adalah dengan tidak mengabaikan nama-nama lain yang masih panjang masa tugasnya. Tentu menjadi pertimbangan signifikan, bahwa mereka berperstasi dan memiliki rekam jejak yang baik tak tercela, untuk bersaing secara sehat dengan rekan seangkatan atau bahkan dengan “abang” dan “adik asuh” mereka.

Namun, jika terendus sebaliknya, siap-siap saja meghadapi perlakuan nonpromotif, bahkan sangat mungkin terdemosi. Kemudian, bermunculan yang terbaik, bukan saja bagi Polri, tapi bagi masyarakat tempat Polri sehari-hari berkelindan.

Budaya dan Moral

Lazimnya, jangankan tiga jenderal pada jabatan struktural di teras pimpinan Polri pensiun, satu saja, pasti akan berdampak berentet panjang pada pergeseran sosok-sosok pemimpin di dan dari unit-unit kerja lain. Wakapolri, Irwasum, dan Kabaharkam, bagi masyarakat di tanah air, memang tidak sepopuler jabatan Kapolri atau Kepala Badan Reserse dan Kriminal (Kabareskrim).