"Anak juga butuh sentuhan psikologis. Maka, jika ada kekerasan pada anak, jangan menyalahkan mereka. Kita harus introspeksi apa yang pernah dilakukan orang tua pada anak," tambahnya.
BKKBN mencatat bahwa salah satu penyebab utama fenomena ini adalah perubahan pola asuh dalam keluarga modern. Banyak anak yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan gawai dan media sosial dibandingkan berinteraksi dengan orang tua.
"Saat ini sebagian besar keluarga yang mengasuh anak kita adalah media sosial. Mereka lebih banyak berdiskusi dan ngobrol dengan media sosial dibandingkan dengan orang tuanya, khususnya ayah," kata Wihaji.
Kondisi ini menciptakan generasi yang lebih lemah secara mental dan kurang mandiri dalam menghadapi tantangan hidup. Menurut Wihaji, anak-anak yang tumbuh tanpa kehadiran ayah berisiko mengalami mentalitas "strawberry generation" atau "hello kitty generation." Mereka cenderung lebih manja dan sulit menghadapi tekanan.
Untuk mengatasi masalah ini, BKKBN mengembangkan program khusus bernama Gerakan Ayah Teladan (GATE). Program ini bertujuan untuk membangun kesadaran orang tua, khususnya ayah, dalam mengasuh anak.
