Situasi tersebut membuat J berada dalam pergulatan antara mempertahankan keyakinan dan menjaga hubungan dengan orang-orang terdekatnya. Ia kemudian memilih untuk tidak memaksakan pemahaman kepada keluarga.

"Memang sempat ada konflik karena keluarga mempertanyakan keputusan saya. Tapi saya tidak ingin pilihan agama membuat hubungan kami menjadi buruk," katanya.

J berusaha mempertahankan komunikasi dengan keluarga dan memberikan waktu agar keputusan tersebut dapat dipahami. Menurutnya, perbedaan keyakinan tidak harus membuat hubungan keluarga terputus.

Di sisi lain, ia tetap melanjutkan proses belajar Islam. Tiga tahun setelah menjadi mualaf, J menganggap proses tersebut masih berjalan dan membutuhkan kesungguhan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Memasuki tahun ketiga sebagai mualaf, J juga mulai memikirkan kehidupan bersama pasangan. Ia berencana menikah pada 2027 dan mulai mempersiapkan diri menghadapi tanggung jawab dalam rumah tangga.