“Justru yang terjadi adalah teror ketakutan yang terus menghantui kehidupan masyarakat di kampung-kampung, yang selama beberapa tahun bahkan membangun pelayanan di gereja sekalipun tidak dapat dilakukan karena umat harus hidup berpindah-pindah dari dan ke shelter pengungsian untuk sekedar mencari rasa aman,” jelasnya.
Baca Juga: Dewan Melunak, RDP Pronyek Pengaspalan di Kolut Hasilkan Tiga Putusan
Dengan fakta-fakta tersebut, kata Wandik, GAMKI menyatakan sikap terutama kepada presiden, Panglima TNI, dan Kepala Kepolisian Republik Indonesia, bahwa karena umat Kristen di Tanah Papua telah mendapatkan jaminan keselamatan seperti yang dijanjikan dalam Al-Kitab, namun perayaan Natal di "Tanah Injil" Tanah Papua terus dihantui dengan kebijakan operasi militer yang telah menciptakan konflik berdarah selama 4 kali perayaan Natal, maka tentunya Tuhan juga akan mengadili sikap para pemimpin di negeri ini yang telah menumpahkan darah di Tanah Injil, Tanah Papua. (C)
Reporter: Try Wahyudi Ari Setyawan
Editor: Haerani Hambali
