Karena keberanian ini, maka pemuda rela diasingkan dan terasing demi mempertahankan idealisme dan kebenaran yang dianutnya. Hal ini bisa ditemui antara lain pada kisah Nabi Ibrahim di atas yang menghancurkan berhalaga dan kisah pemuda dalam gua (ashabul kahfi).

Kedua, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi (curiosity) untuk mencari dan menemukan kebenaran atas dasar ilmu pengetahuan dan keyakinan. Karena rasa ingin tahu yang tinggi ini pemuda berani melakukan gebrakan besar, menantang kemapanan.

Rasa ingin tahu yang besar ini menyebabkan pemuda cenderung berani melakukan hal-hal baru, sebagai dasar inovasi dan penemuan.  Sehingga, tidak pernah berhenti dari belajar dan menuntut ilmu pengetahuan (QS al-Baqarah (2) ayat 260).

"Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata, "Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati." Allah berfirman, "Belum percayakah engkau?" Dia (Ibrahim) menjawab, "Aku percaya, tetapi agar hatiku tenang (mantap)." Dia (Allah) berfirman, "Kalau begitu, ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah olehmu, kemudian letakkan di atas masing-masing bukit satu bagian, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera." Ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana."

Ketiga, selalu berusaha dan berupaya untuk berkelompok dalam bingkai keyakinan dan kekuatan akidah yang lurus, seperti pemuda-pemuda Ashabul Kahfi yang dikisahkan Allah SWT pada surah al-Kahfi (18) ayat 13-25.