Namun, tidak demikian dengan tenaga honorer yang mengabdi di Dinas Kesehatan (Dinkes) Mubar yang telah dibayarkan honorariumnya. A menilai kondisi ini sebagai bentuk perlakuan tidak adil dari pemerintah daerah.
"Kita juga bingung, apa bedanya honorer kesehatan (Dinkes) dengan kita honorer puskesmas. Kalau mau pikir kita ini posisinya piket 24 jam. 24 jam itu tidak ada istirahat," keluh A.
Menurut A, beban kerja yang dipikul oleh tenaga honorer puskesmas lebih berat jika dibandingkan dengan honorer di Dinkes Mubar.
"Kalau mau dibandingkan dengan (honorer) Dinas Kesehatan mungkin mereka hanya minta data dari puskesmas, yang turun lapangan itu kita yang di puskesmas, yang berhadapan langsung dengan pasien itu bukan Dinas Kesehatan tapi dari puskesmas," tutur A.
Meski demikian, A mengaku tetap menjalankan tugasnya dengan memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang membutuhkan.
