Hal itu, kata Hj. Herawati, juga dipicu oleh beberapa faktor, di antaranya perkawinan beda etnis, tingkat pendidikan dan mobilitas yang tinggi, serta tidak diajarkan bahasa daerah tersebut dalam bentuk mata pelajaran muatan lokal di satuan pendidikan jengang dasar (SD dan SMP).
Baca juga: Dukung Go Green Madrasah, MA Asy-syafiiyah Sabet Penghargaan
Dalam kenyataan berbahasa, lanjutnya, suatu bahasa dapat menggeser bahasa lain. Bahasa yang tergeser adalah bahasa yang tidak mampu mempertahankan diri atau tidak lagi digunakan sebagai sarana komunikasi masyarakat penuturnya.
Kondisi seperti itu merupakan akibat dari pilihan bahasa dalam jangka panjang (paling tidak tiga generasi) dan bersifat kolektif (dilakukan oleh seluruh warga guyub/masyarakat tutur).
Pergeseran bahasa berarti suatu guyub atau komunitas meninggalkan suatu bahasa sepenuhnya untuk memakai bahasa lain. Apabila pergeseran sudah terjadi, para warga guyub itu secara kolektif memilih bahasa baru.
