Pertama, Sub-Kelompok I (Klaster Hulu - Kecamatan Routa, Konawe): Masyarakat adat Tolaki dan penggarap historis yang kehilangan akses ke hutan adat akibat pencaplokan lahan sepihak. Warga mengalami krisis air, penutupan jalur logistik tradisional "Jalan Walanda", penimbunan alur anak sungai, serta kehancuran sentra peternakan tradisional.
Kedua, Sub-Kelompok II (Klaster Hilir - Kabupaten Konawe Utara): Masyarakat pengguna Daerah Aliran Sungai (DAS) Sungai Lalindu yang kini lumpuh total. Air sungai yang dulunya menjadi sumber air bersih utama kini berubah menjadi aliran lumpur pekat akibat sedimentasi tambang (overburden runoff).
"Akibatnya, terjadi kegagalan panen sawah, matinya pertambakan ikan tawar secara massal, hingga ancaman banjir lumpur bandang musiman yang menenggelamkan fasilitas publik," beber Jumran.
Dampak kehancuran tata kelola air di hulu Routa dirasakan langsung secara destruktif oleh masyarakat di bagian hilir. Perwakilan warga terdampak dari Kabupaten Konawe Utara, Muhammad Azhar menyatakan, kehidupan domestik dan ekonomi ribuan kepala keluarga kini berada di ambang kehancuran total.
"Kami di hilir menerima kutukan dari rusaknya alam Routa. Sungai Lalindu yang menjadi satu-satunya sumber air bersih kami sekarang berubah menjadi aliran lumpur pekat akibat sedimentasi tambang. Sawah-sawah kami gagal panen karena saluran irigasi tradisional dipenuhi lumpur tambang," ungkap, Muhammad Azhar.
