4. Kekuasaan digunakan untuk mempertahankan kekayaan.

Hal inilah yang mendasari lahirnya dinasti politik, pola oligarki dan simbol keserakahan. Di sinilah terlihat watak sistem kapitalisme demokrasi. Negara akhirnya lebih mudah berpihak kepada pemilik modal karena kekuatan ekonomi mereka sangat besar. Oligarki bukan cuma menguasai bisnis, tapi juga mampu memengaruhi kebijakan, media, bahkan opini publik.

Akibatnya, ketimpangan kepemilikan lahan makin parah. Sebagian kecil elite bisa menguasai jutaan hektar tanah, sementara masyarakat adat yang hidup turun-temurun di tanah tersebut malah kehilangan segalanya. Ini bukan sekadar konflik agraria biasa, tapi bentuk nyata ketidakadilan struktural.

Lebih parah lagi, ketika harta milik umum seperti hutan dan sumber daya alam diberikan kepada investor swasta, rakyat otomatis kehilangan akses terhadap kekayaan yang seharusnya menjadi hak bersama. Dari sini lahirlah ketimpangan ekonomi yang makin tajam. Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin.

Narasi “Ketahanan pangan” akhirnya dipandang sebagian masyarakat hanya sebagai kemasan politik untuk melegitimasi perampasan lahan. Di balik slogan pembangunan nasional, ada masyarakat adat yang kehilangan identitas, kehilangan tanah, bahkan kehilangan masa depan.