KOLOMBO, TELISIK.ID - Dibebani dengan utang yang sangat besar, membuat perekonomian Sri Lanka saat ini benar-benar mengalami kebangkrutan. Untuk mengatasi hal itu, Kolombo sedang berusaha untuk mengadakan konferensi donor bersama China, India, dan Jepang.

Tak hanya itu, Perdana Menteri Sri Lanka, Ranil Wickremesinghe bahkan meminta bantuan lembaga moneter global seperti IMF untuk menyelesaikan krisis yang tengah dihadapi oleh Sri Lanka.

"Kami sekarang menghadapi situasi yang jauh lebih serius, lebih dari sekedar kekurangan bahan bakar, listrik, gas, dan makanan," ujar Wickremesinghe, seperti dikutip dari Sindonews.com, Kamis (23/6/2022).

Ia juga menjelaskan bahwa warga Sri Lanka bahkan tidak bisa membeli bahan bakar impor, uang tunai, akibat beratnya utang yang ditanggung oleh perusahaan petroleum, sehingga mulai terlihat tanda-tanda kejatuhan ke titik terendah.

Analisa yang suram ini menguak ketika pihak berwenang melakukan perbincangan dengan pemberi pinjaman yang berbasis di Washington terkait kesepakatan dana segar untuk negara yang bangkrut ini.