Fenomena ini juga disorot kalangan akademisi. Dr. Siti Nurhaliza, pakar psikologi digital dari Universitas Padjadjaran, menjelaskan bahwa konten dengan informasi terpotong sengaja dirancang untuk memicu curiosity gap. Ia menyebut mekanisme tersebut membuat orang terdorong mencari kelanjutan cerita tanpa mempertimbangkan risiko.

“Ketika informasi dibuat setengah-setengah, otak merasa perlu menutup celah itu. Di sinilah orang cenderung terburu-buru mengklik tautan,” katanya.

Seiring penyebaran video, muncul pula klaim bahwa pemeran dalam rekaman telah diamankan aparat. Namun, penelusuran terhadap pernyataan resmi kepolisian belum menemukan konfirmasi terkait kabar tersebut. Beberapa video yang menampilkan adegan penangkapan diketahui merupakan potongan berbeda yang digabungkan sehingga menimbulkan kesan seolah-olah berkaitan langsung. Otoritas meminta publik tidak menyebarkan informasi yang belum diverifikasi.

Akun TikTok yang disebut sebagai pengunggah awal dilaporkan berubah menjadi privat setelah jumlah penonton meningkat tajam. Meski demikian, salinan video terus beredar di berbagai akun lain. Pola ini menunjukkan bagaimana konten sensasional dengan durasi pendek mudah direplikasi dan didistribusikan ulang tanpa kendali, terutama ketika algoritma mendorong materi dengan interaksi tinggi.

Baca Juga: Pemeran Link Video Wanita Berhijab Cukur Kumis Ditangkap Polisi, Begini Penjelasannya