Ini berlaku sejak penguasa Rezim Orde Baru menyatakan berhenti (cara ini tidak diatur dalam konstitusi) pada 1998 beriringan dimulainya Reformasi. Kini, di tengah gema kabar surplus ratusan jenderal polisi dan perwira menengah berpangkat komisaris besar (Kombes) polisi, tulisan ini, coba menyoroti kesejalanan basis pendidikan anggota Polri ketika pertama memulai masa dinas, kemudian dilanjutkan oleh pembinaan karir (binkar).
Hal semacam itu, bagaimanapun seharusnya, tak boleh terjadi jika tidak ingin berhadapan dengan anggota yang pura-pura tetap bersemangat atau nyata-nyata apatis. Bagaimanapun mereka adalah anggota yang ingin punya karir secara bagus.
Apatis adalah sikap masa bodoh, tak peduli, acuh tak acuh atau pernah populer diungkapan: ”pasrah, asal jalanin aja, emang gue pikirin” alias EGP.
Terkait erat permasalahan karir, bahkan Jenderal M Tito Karnavian sebagai Kapolri (2016 – 2019) menungkapkan, “Saking banyaknya yang ingin naik jadi bintang satu, tak sedikit pangkat melati tiga (kombes, pen) mencari dukungan dan mengeluarkan uang.
Hal itu menjadi rahasia umum…. Galang menggalang ke sana kemari untuk mendapatkan bintang satu, minimal. Ditambah lagi, banyak juga yang punya logistik. Itulah yang saya rasakan sebagai Kapolri” (Rabu, 17 Juli 2019, wisuda purnabakti perwira tinggi Polri di PTIK-STIK, Jakarta).
