Di Jakarta, Artidjo diketahui adalah hakim agung yang pergi-pulang kerja dari dan ke rumah kos menumpang bajaj, sebelum tersedia kendaraan dinas dalam posisinya sebagai Ketua Kamar Pidana Mahkamai Agung. Suatu ketika penulis sendiri sempat bincang singkat dengan pengemudi mobil dinasnya di halaman parkir Toko Buku Gunung Agung Kwitang, Jakarta Pusat. “Sambil lewat mau ke kantor, mampir dulu, Bapak cari buku”, ujar si sopir.
Dari hati yang paling dalam Artidjo memang sama sekali tak mau memperkaya diri. Apalagi dengan menarik keuntungan pribadi dari perkara yang ia tangani. Sejak masih pengacara, dosen hukum, sampai menjadi hakim agung, ia berniat hidup berkiprah cuma untuk menegakkan hukum selurus-lurusnya. Setelah belasan tahun mengabdi sebagai hakim agung, tulis Windrawan tentang pengakuan Artidjo, “Saya akan tetap memelihara kambing di rumah” (2018: 199).
Jumlah pejabat negara yang jujur dan mengembangkan hidup sederhana (bukan cuma gaya) di negeri ini, memang masih terlalu sedikit untuk diteladani, dibandingkan dengan penduduk yang jumlahnya ratusan juta jiwa. Tetapi, ada pula yang sebaliknya, hidup bergaya miskin tapi sesungguhnya luar biasa kaya.
Pejabat yang berani melawan arus dan hidup tidak mengada-ada, juga terbatas jumlahnya. Ini antara lain terlihat pada Hatta yang disiplin. Juga, Hoegeng yang baru mau menerima pemberian uang untuk membeli rumah kontrakannya dari seorang juniornya yang mendesak sambil mengaku “uang itu hasil patungan dari para Kapolda”. Konon, saat itu pertama kali seorang anak Hoegeng melihat sang ayah menangis haru.
Sungguh sebuah ironi, rasanya, ketika siapa pun dengan lantang cuma berani melarang, “Pejabat jangan bergaya hidup hedonis” atau “Jangan tampil pamer kemewahan di medsos”. Terasa sangat ironis bila membandingkan kalimat-kalimat serupa itu, dengan Hatta, Hoegeng, Lopa, dang Artidjo yang sederhana tidak artifisial.
