Dengan demikian, monumen atau museum tersebut, tak menjadi “benda molek” yang bercerita tentang masa lalu yang dibangga-banggakan cuma secara verbal. “Tugas kita merekonstruksi tantangan jigsaw puzzle sejarah…”, kenang Julius Por tentang nasihat guru besar UGM Prof. Dr. Teuku Jacob kepadanya seperti ditulis dalam “Doorstood Naar Djokja, Pertikaian Pemimpin Sipi – Militer (Jakarta, 2009: ix).
Dari monumen dan museum itu memancar aktif pendidikan kejujuran dan kesederhanaan. “Hakikat pendidikan itu, dapat terwujud melalui proses pengajaran, pembelajaran, dan latihan-latihan dengan memerhatikan kompetensi-kompetensi pedagogi berupa profesi, kepribadian, dan sosial. Pendidikan menumbuhkan budi pekerti, kekuatan batin, karakter, pikiran, dan tubuh peserta didik yang dilakukan secara integral…”, tulis Dr.H. Syarif Hidayat (Tangerang, 2019: 3).
Begitulah monument dan museum yang mendidik! (*)
* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS
