Terpenting dari situ petiklah hikmah hidup di negara hukum yang sudah memasuki tahun ke-78 merdeka, dengan sebagian masyarakatnya yang mudah terpicu kecemburuan sosial. Bahkan, di antaranya bermental bangga mendapat bantuan gratis dan mudah menjerit   berlindung di balik kata “tak adil”. Mudah pula ditunggangi kepentingan politik nafsu berkuasa.

Pesan saya, jangan “dikipas-kipasi” cuma demi menaikkan diri sendiri dengan mengatasnamakan kelompok. Apalagi, untuk menjatuhkan “rekan sepersaingan” demi popularitas dalam perburuan politik, yang kemudian bersikap aji mumpung.  

Eksibisi

Di antara kasus-kasus terakhir yang paling mencuat, adalah ketika ibu bendahara negara berang-berang. Sebagai seorang ibu, ia mengklaim kemanusiaannya amat tersinggung, kemudian bangkit cepat merespons. Apa yang terjadi?

Putra seorang pejabat Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) secara fisik menyakiti sesama hingga tak berdaya. Sampai harus berlarut-larut mendapat perawatan ekstra di rumah sakit. Lewat medsos diketahui, si penganiaya senang pamer kemewahan. Buntutnya, terkuak mendalam “bau anyir” ketidakwajaran perkembangan kekayaan sang ayah.