Di tengah kondisi seperti itu, patut disyukuri masih ada penulis yang membukukan tentang Bung Hatta, Hoegeng, Baharuddin Lopa, dan Artidjo Alkostar. Masing-masing buku mengungkap kehidupan keluarga sampai keseharian mereka sebagai pejabat negara. Tidak “onani”, melain kenyataan serta cerita-cerita fakta dari orang-orang lingkar dalam dan luar mereka.
Pada intinya buku-buku tersebut mengungkap, “Semua bermula dari rumah sehingga keluarga inti tidak memotivasi si pejabat memperkaya diri sendiri atau orang lain atau pihak lain, dengan cara melawan hukum. Dari rumah, mereka mengembangkan kejujuran hingga menjadi berani hidup tidak mengada-ada, sederhana, tahan hidup miskin. Bahkan, ada pula yang menolak menggunakan fasilitas yang sesungguhnya telah diperuntukan oleh negara baginya, karena merasa tak pantas”.
Di antara mereka adalah pejabat di era Orde Baru (Orba), bahkan hingga era Reformasi. Pada era ini, banyak terbuka peluang “sengaja bersepakat mengakali” untuk bisa berbuat curang. Bak mengambil barang yang bukan haknya, baru diteriaki maling kalau ketahuan mencuri. Kalau tak ketahuan, ya jalan terus, seperti cerita Pram dalam novel ”Koruptor”.
Padahal, untuk memerkaya diri secara melawan hukum, dengan meyalahgunakan jabatan dan kewenangan di tengah banyak orang yang oportunis, bagi mereka adalah sangat mungkin. Bung Hatta, Wakil Presiden I (1945-1957) RI. Setelah pensiun, ia tetap menjalani hidup sederhana bersama keluarga dan diteladai oleh putri-putrinya.
Malahan Hatta berseteru dengan rezim orang paling berkuasa di era Orde Baru (Orba). “Korupsi Sudah Membudaya” adalah kalimat pendek orisinal dari Hatta yang paling dikenang hingga kini.
