Sebagai Dirjen Pemasyarakatan, ia menggunakan mobil dinas ber-“AC alam” alias ketika mobi melaju kaca jendela dibuka. Pernah menjadi Menteri Kehakiman, putra bangsawan Mandar, Sulsel ni, menjadi Jaksa Agung dalam kurun sangat singkat (6 Juni – 3 Juli 2001). Meski ajal cepat menjemputnya, Lopa masih sempat menggetarkan dunia penegakkan hukum yang karut marut ketika itu.
Wafatnya Lopa di Riyadh, Arab Saudi, 3 Juli 2001 meninggalkan sejumlah kasus besar korupsi yang sudah ia persiapkan untuk disidik. Dalam rapat kerja dengan Komisi II DPR RI pertengahan Juni 2001, Lopa mengungkapkan, setidaknya 10 kasus korupsi kelas kakap senilai Rp 85 triliun yang masuk dalam tahap penyidikan pihaknya. Bahkan, ia bersiap memperdatakan Presiden ke-2 RI, Soeharto (Tempo, 15 Juli 2001: 23) dalam upaya mengembalikan kekayaan negara.
Dalam memberantas korupsi, Lopa tak peduli bakal menyasar siapa. Publik mengikuti sepak terjangnya sejak awal-awal ia berkarir di Kejaksaan. Sampai-sampai ketika berlangsung pemakaman Jaksa Agung penerima Bintang Mahaputra itu di TMP Kalibata, Jakarta Selatan (Jumat, 6 Juli 2002) itu, asa terus bergema. “…jangan tertawa dulu, kami teruskan perjuangan Lopa”, tertulis di spanduk yang diusung sekelompok massa di luar Kompleks TMP Kalibata. Bagaimanapun, kalimat di spanduk ini, mengekspresikan kehilangan seorang penegak hukum yang berani dan berintegritas.
Soal kejujuran dan bersih dari uang haram juga ada pada Artidjo Alkostar, hakim agung berlatar belakang advokat pembela orang kecil. Suatu ketika ia marah dan mengusir temannya sendiri dari ruang kerjanya, lantaran memengaruhinya dalam suatu perkara yang sedang ia tangani.
Kesederhanaan membalut kehidupan rumah tangganya sejak masih pengacara dan dosen. Jangan harap menemukan furnitur mewah di ruang tamu rumah amat sederhana Artidjo (alm), Yogayakarta. “Dia Tahan Miskin,” begitu judul karangan dalam buku “Alkostar Sebuah Biografi” (Windrawan, 2018: 215) mengutip Abdul Rahman Saleh, mantan Jaksa Agung dan rekan senior Alkostar semasa masih di LBH.
