Hari ke hari Pieter kerap memuat perihal perawatan dan perkembangan Hila di media sosial (medsos). Ini sisi positifnya medsos, bantuan pun mengalir dari mereka yang pernah satu grup penerbitan dengan Hila atau mereka yang bersimpati. Simpati dan bantuan tak cuma dari Jakarta, melainkan juga dari Kupang dan Surabaya.

Sampai satu ketika seorang donatur, seorang pensiunan pemimpin redaksi sebuah koran terkemuka Ibu Kota, diketahui teman satu sekolah Hila di masa lalu, muncul memberi bantuan. Ia memberi bantuan untuk Hila pulang kampung. “Agar dapat dekat dengan saudara-saudara kandungnya sendiri di Mangtim,” tutur Hila Bame, saudara sepupu sang dermawan.

Kini Hila di Mesi dalam rawatan keluarga kakak kandungnya. Terkadang ia berpindah ke rumah adik kandungnya. Ia sering berkirim video, yang memperlihatkan ia sudah bisa berjalan-jalan di sekitar tempat tinggalnya.

Hila tak sendirian. Ada rekan seprofesi dan sekantor dengannya 28 tahun lalu. Helma namanya. Ia juga mengalami serangan stroke berat. Tinggal berdua dengan suami di Pasir Putih, Depok, Jabar.

Di rumah kecil di daerah yang berbatasan dengan wilayah Jakarta Selatan (Jaksel) itu, Helma sudah 1,5 tahun lebih –dari tiga tahun stroke--  terkapar di tempat tidur. Ia cuma bisa terbaring dan dilayani sang suami.