Jika di Jakarta, ibu kota adalah pusat dari segala macam pusat, diandaikan terdapat 40-an orang WS di setiap masing-masing dari 38 provinsi, berarti mereka yang inklud harus diurus oleh SWSI, tak kurang dari 1.500-an jiwa. Satu angka yang cukup besar bila dibandingkan dengan jumlah seluruh mereka yang sah mengklaim diri sebagai wartawan sebelum Reformasi 1998.

Jangan-jangan lebih dari asumsi ini. Manusia Indonesia jangan seperti yang dikatakan jurnalis tiga zaman alm. Mochtar Lubis dalam pidato kebudayaannya di TIM Jakarta 57 tahun silam. Manusia Indonesia cuma punya satu ciri positif dari enam ciri “Manusia Indonesia”, kata Mochtar, yakni “Artistik, berbakat seni” (pengantar Jakob Oetama, 2008: vii). Sebagai umat di negara yang mewajibkan beragama ini, hal tersebut  pun sudah patut disyukuri.

Dengan jumlah sebesar itu berarti jumlah WS setiap tahun akan bertambah terus seiring pertambahan penduduk di negara ini. Regenerasi adalah pasti. Tentu, hal ini dengan memperhitungkan perbandingan angka vertilitas dan regenerasi WS.  

Ke depan masih terlalu banyak tantangan, terutama politis dalam pengertian penguasa. Di Negara ini, feodal sudah menjadi ciri melekat. Pada orang dengan profesi apa pun, sebagaimana ciri ketiga dalam pidato Mochtar. Belum lagi melihat kemajuan yang menggoda seperti teknologi internet yang sangat bisa bikin lupa. Di alam yang serba terbuka dan cepat berubah dan lintas budaya ini patut disampaikan: selamat berjuang SWSI! (*)