Di usia yang tahun 2026 ini mereka sudah masuk kategori manusia lanjut usia (manula), bahkan di antaranya "sudah berada di awal dewasa dan sudah dalam kategori dewasa manula”, menurut hematku, sekurangnya ada dua hal yang melatarbelakangi keharusan SWSI lahir. Selebihnya, adalah catatan penting sekaligus harapan. Pada April 2006 usiaku 68 tahun lebih 4 bulan.
Bukankah harapan adalah pertanda masih ada cita-cita? “Kuingin hidup 1.000 tahun lagi,” seperti syair dari puisi “Aku” yang sarat maknawi dari sastrawan ‘45 alm, Chairil Anwar. Jelas SWSI bukan sekadar wujud keinginan, tapi sebuah harapan yang dibulatkan ke dalam gagasan dan kemudian dicetuskan.
Oleh karena itu, dengan lapang dada para “warga senior” harus siap secara alami disongsong oleh generasi pelanjut seiring datangnya secara alami era yang berbeda dan cepat berubah. Ciri ini antara lain ditandai pekat oleh setiap orang bisa mengaku diri wartawan dengan jumlah puluhan ribu media, terutama online. Namun, hendaklah tetap berpegang pada “kejujuran” sebagai nilai-nilai hakiki yang menjadi muatan melekat pada jurnalisme. Tak ada jurnalisme tanpa nilai-nilai kejujuran sebagai anutan dasar setiap jurnalis atau wartawan.
Kadar Intelektual
Intelektualitas setara dengan kejujuran. Intelektualitas merupakan konsistensi bertindak selaras dengan norma dan etika. Kalimat pendek yang tampaknya kini sudah sirna dari muka bumi Indonesia, yakni dengungan “satunya kata dengan perbuatan”. Kini hal itu dirangkaikan dalam “moral integritas”. Setiap wartawan harus bermoral-integritas. Begitulah intelektualitas dan intelektual!
