Untuk itu, SWSI sebagai organisasi dan warganya harus berbeda dan menjadi penegak new values (nilai berita) yang menjadi produk utama setiap jurnalis untuk diserahkan dan diloloskan medianya kepada publik. Maka, setiap yang berani mengaku jurnalis, hendaklah sangat paham pada sekurangya tujuh hal yang mendukung nilai berita sebagai produk utama yang disajikan media kepada masyarakat banyak. Lagi-lagi dengan kejujuran!
Ketujuh hal yang patut dipahami dan dipertanyakan ke dalam diri masing-masing si pengaku jurnalis, meliputi aktualitas, proksimitas, dampak atau konsekwensi, prominansia (menonjol), konflik, minat manusia (human interest), dan terpercaya. Produk berita yang aktual, tidak akan basi diterima khalayak pembaca. Tetapi, bukan karena dituntut kecepatan agar aktual lantas mengabaikan keakuratan yang terjamin oleh moral integritas (kejujuran).
Wartawan juga hendaklah pandai pembaca kedekatan secara geografis dan mungkin juga secara emosional antara yang akan diliput dan khalayak yang menjadi sasaran medianya. Kedekatan pada narasumber hanya ditempatkan pada kaitannya dengan --antara lain-- menggali “apa di balik” peristiwa dalam kerangka jujur dalam mengungkap kebenaran secara berimbang. Bukan disertai rasa sentimen. Dengan demikian, secara selektif dan bermoral, masyarakat menjadi utama di benak setiap wartawan.
Berikutnya, wartawan dengan ketajamannya mampu mengendus, bahwa hasil liputannya akan memengaruhi khalayak pembaca sehingga mengundang positif berpikir mereka untuk bertindak atau tidak bertindak. Lantas, ada konflik di dalam produk berita yang akan disajikan medianya.
Mungkin maksudnya, dengan ini menjadi menarik karena ada perbedaan sampai pertentangan, perselisihan atau perdebatan, sehingga menginspirasi khalayak pembaca. Bukan sekadar menggulir rilis yang isinya cenderung searah, sehingga terkesan fotokopi belaka. Yang semacam ini, tentu amat disukai narasumber yang cuma memenuhi hasrat kepentingannya belaka.
