Setelah penguasaan sekurangnya atas lima langkah tersebut, wartawan patut mampu membaca minat (human interest) pembaca yang disasar, agar medianya tidak ditinggalkan pembaca. Cuma dianggap “angin lalu”. Keenam langkah harus dituntaskan dengan kejujuran. Jujur menuliskan agar jujur pula disajikan kepada khalayak pembaca.
Itu sebabnya, setiap wartawan harus bermoral integritas, dipercaya oleh penerbit, dan terpercaya di mata publik dan narasumber. Sekali-kali bukan cuma diandalkan oleh medianya. Artinya, produk berita yang diserahkan tak boleh asal menyenang-nyenangkan narasumber dan membuat pengasuh penerbitnya dapat tidur pulas. Ini bukan iklan tapi produk kejujuran, Bung!
Dengan kejujuran, setiap wartawan berani mempertanggungjawabkan hasil liputannya dengan baik dan berani kepada ketiga komponen kuat tersebut, karena sudah memedulikan keseimbangan berita (cover booth side). Perlu pula segera disadari bahwa setiap manusia punya subjektivitas, demikian pula wartawan (ini, tentu saja, bukan sebuah permakluman).
Oleh karena itu, moral integritas menjadi sangat penting dalam melihat suatu peristiwa patut diliput dan diserahkan kepada pengasuh di penerbit untuk layak diinformasikan kepada masyarakat banyak.
Kewajiban pertama setiap wartawan adalah komitmen pada kebenaran. Kemudian, pertanggungjawaban utamanya pada masyarakat (Luwi Iswara, 2005: 8 - 9).
