Namun, poros ini kemungkinan besar lebih mengedepankan mengajukan calon yang potensial secara elektabilitas dan tentu saja mereka mengharapkan dari unsur eksekutif daerah yang terbukti elektabilitas tinggi, dianggap berhasil, dan mendapatkan sentimen positif dari masyarakat.

Dengan harapan bahwa akan sama seperti Presiden Jokowi saat ini, berasal dari pejabat daerah yang telah memiliki rekam jejak yang baik dan berhasil, yang akhirnya juga bisa dirasakan empatinya, juga kehadiran dan kinerjanya sebagai presiden bagi masyarakat.

Jadi, saat ini Airlangga Hartarto akan terus berusaha meningkatkan ketokohan diri, kinerjanya sebagai menteri, namun Airlangga dan Golkar, tentu akan berpikir dan bertindak rasional.

Sebab, Golkar lebih memikirkan kebermanfaatan bagi masyarakat, lebih menjaga peluang tetap sebagai partai tiga besar, menjaga peluang dan gerak politik tetap diperhitungkan sebagai bagian koalisi pemerintahan dari siapa pun yang terpilih dalam Pilpres 2024, dibandingkan ambisius diri semata yang malah menyebabkan Golkar makin terjerembab suaranya atau malah terjadi perpecahan kembali antar faksi di internal Partai Golkar. (*)