Ini membuktikan bahwa ruang gerak Airlangga amat tidak leluasa, ia sebagai ketua umum Golkar bukan saja harus memperhitungkan suara partainya tetapi juga akan dituntut untuk mendongkrak suara Partai Golkar di Pileg 2024 nanti.
Di sisi lain, tentu saja Golkar akan bertindak rasional. Ia akan benar-benar memperhitungkan dengan seksama seperti perkembangan politik di kabinet, elektabilitas Airlangga, dan juga pola koalisi yang akan tercipta.
Pilpres 2024 memang sangat dimungkinkan terjadinya empat poros koalisi yakni poros PDIP, poros Gerindra, dan ada dua kemungkinan yang bisa terjadi apakah Golkar akan membentuk poros ketiga sebagai partai tiga besar, atau malah Partai Golkar memilih bergabung dengan poros keempat yang bisa diinisiasi oleh partai peraih suara menengah dalam parliamentary threshold.
Golkar jika ingin mengajukan Airlangga sebagai calon presiden, untuk diajukan di poros PDIP, maupun poros Gerindra harus berpikir bijak, dengan menawarkan dan menurunkan ambisi melalui mengajukan Airlangga Hartarto sebagai calon wakil presiden.
Sebab, Airlangga secara ketokohan masih kalah dengan Ganjar Pranowo dari PDIP. Apalagi kriteria calon presiden dari PDIP, sangatlah tidak mudah, seperti pemimpin yang harus ada di lapangan bukan di sosial media, dan pemimpin yang dapat dilihat berdasarkan track recordnya terkait karakter, kompetensi, dan kapasitasnya, (Telisik.id, 22 Mei 2021).
