Ini menunjukkan sepak terjang Airlangga Hartarto tergantung hasil kualitas diri dan kinerjanya sebagai menteri koordinator bidang perekonomian dan ketua KPCPEN, keputusan ini pun berada dalam kendali Presiden Joko Widodo.
Sedangkan, Airlangga juga sangat sulit menggeser ambisi Prabowo dan Gerindra, mereka akan mencoba peruntungan kembali untuk memajukan Prabowo Subianto sebagai presiden, dibandingkan menukar posisi Prabowo sebagai wakil presiden seperti dengan Megawati Soekarnoputri pada 2009 lalu.
Ini seperti menunjukkan bahwa Partai Golkar dapat menggunakan opsi ketiga yakni memilih membentuk poros baru. Hal ini yang diperhitungkan oleh Airlangga Hartarto berdasarkan saran ketua DPD Partai Golkar Jawa Timur yakni berpasangan dengan Khofifah Indar Parawansa, dengan analisis bahwa Pilpres 2024 masih bernuansa menguatnya politik Islam, di sisi lain PKB merupakan partai yang sangat solid dalam mendukung koalisi pemerintahan, dan kehadiran PKB juga dapat menjadi magnet untuk menggaet partai-partai lain walaupun secara matematis PKB dan Golkar sudah cukup memenuhi ambang batas presidential threshold karena berada di angka 22 persen.
Tetapi mengajak PKB berkoalisi dengan mengusung Airlangga-Khofifah tentu saja tidaklah mudah, karena masih ada ambisius Muhaimin Iskandar yang patut diperhitungkan, Muhaimin memiliki ambisi untuk maju sebagai calon presiden pada Pilpres 2024 ke depan.
Memang pilihan keempat adalah Golkar dan Airlangga lebih memilih tidak membangun poros Golkar yang diinisiasinya. Tetapi memilih untuk bergabung dalam poros keempat, yang bisa diinisiasi oleh Partai Nasdem, atau Partai Demokrat, ataupun PKS.
