"Kita takut apa bila dikonsumsi oleh masyarakat yang mengambil kemarin terus ada kandungan berbahayanya, tapi mudah-mudahan tidak ada kandungan yang kita tidak inginkan pada ikan tersebut," katanya.

Terpisah, salah satu akademisi, dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari, Wa Iba mengatakan, fenomena seperti itu sudah sering terjadi di hampir semua belahan bumi, baik di negara tropis maupun subtropis dan penyebabnya hampir semua sama, yang paling umum karena kekurangan oksigen.

"Kurangnya oksigen bisa jadi karena perairan mengalami ledakan fitoplankton atau micro alga. Ini karena pasokan nutrien yang terlalu banyak utamanya nitrat dan fosfat yang berasal dari limbah yang muaranya menuju laut," ungkapnya.

Lanjut ia menambahkan, cuaca yang belakangan ini tidak menentu dapat menyebabkan stratifikasi (perbedaan suhu) air laut. Pada permukaan air laut itu suhu air sangat panas dan dilapisan bawah karena kurang oksigen sehingga menjadi dingin menyebabkan, tidak adanya pertukaran oksigen yang cukup.

Baca Juga: Pentingnya Pengembangan Kewirausahaan di Pondok Pesantren