Baca Juga: Nasib Koalisi NasDem, Demokrat dan PKS di Tangan Surya Paloh
"Partai Demokrat memang harus sadar diri. Partai ini urutan ketujuh. Partai tidak bisa sombong dapat mengusung calonnya sebagai capres atau cawapres. Apalagi elektabilitas dari AHY tidak tinggi dan hanya menguat sebagai calon wakil presiden," ucap Efriza, Minggu (18/9/2022).
Sisi lain, lanjut Efriza, Demokrat selama ini tidak berupaya masuk ke dalam tiga poros koalisi saat ini. Ketika kesempatan berkoalisi dengan NasDem-PKS menguat, Demokrat tak gerak cepat menyambutnya. Wajar akhirnya, bisa terjadi pergeseran peta politik koalisi.
Efriza menjelaskan, NasDem bisa saja dengan Anies dan malah memilih membangun poros baru bersama PDIP dalam koalisi. Dengan alasan misalnya, persatuan Indonesia. Sedangkan, KIB yang melihat, menunggu, dan juga mulai goyah pondasi koalisinya pasca konflik PPP, maka juga memungkinkan KIB menimbang opsi bergabung dalam poros baru bersama PDIP.
"Artinya, peta koalisi tinggal menyisakan pertama poros baru yang digalang PDIP dengan kekuatan terbesar barisan koalisi pendukung pemerintah. Poros koalisi lama tinggal menyisakan Gerindra-PKB. Sedangkan, PKS dan Demokrat tidak bisa memilih tak berkoalisi, tentu kecenderungannya bergabung ke poros Gerindra-PKB. Dua partai itu tidak akan diterima oleh PDIP melihat rekam jejak sejarahnya," jelasnya.
