"Pola ini belum terlihat untuk negara Indonesia," kata Dedi dalam laman ugm.ac.id.

Namun, di Indonesia terlihat adanya peningkatan jumlah penambahan pasien harian (insidensi) dibandingkan masa sebelum dilakukannya era adaptasi kebiasaan baru.

Tak hanya itu. Dedi menyampaikan perlunya dilakukan pengendalian penyebaran secara lebih optimal di episentrum utama di Indonesia, yakni Jawa Timur, DKI Jakarta, Sulawesi Selatan, serta Kalimantan Selatan.

Langkah pengendalian yang dimaksud dengan lebih menggencarkan Tracing, Test dan Treatment (3T) seiring dengan pendisiplinan masyarakat.

Pengendalian provinsi-provinsi lain yang berpotensi membahayakan seperti Jawa Tengah, Sumatera Utara, Bali, Sumatera Selatan dan Papua perlu dioptimalkan. "Agar Indonesia dapat semakin optimis menatap ke depan," tandasnya.