KENDARI, TELISIK.ID - Aktivis perempuan memberikan kritik terhadap praktik pelabelan terhadap perempuan dalam pemberitaan media massa yang dinilai melanggengkan ketidakadilan gender.
Pelabelan yang dinilai seperti “janda”, “wanita penggoda”, atau diksi-diksi yang tidak setara dinilai memperkuat budaya patriarki dan memperlemah upaya menciptakan masyarakat yang adil dan setara gender.
Dalam sebuah diskusi publik bersama jurnalis di salah satu hotel di Kendari, aktivis perempuan menegaskan pentingnya peran media sebagai jembatan antara masyarakat sipil dan negara.
Baca Juga: Menjelang HUT ke-80 RI, Pernak-Pernik Merah Putih di Kendari Mulai Dijual
Aktivis Perempuan Sultra, Yustin, menilai bahwa jurnalis berada di posisi strategis dalam struktur demokrasi, yakni menjadi penghubung antara warga dan penyelenggara negara.
