“Maka dari itu, penting bagi media untuk berpegang teguh pada etika dan nilai-nilai jurnalistik yang berperspektif GEDSI (Gender, Disabilitas, dan Inklusi Sosial),” ujar Yustin, Jumat (25/7/2025).

Ia menyoroti bahwa pelabelan perempuan dalam berita bukan hanya soal gaya bahasa, tetapi juga mencerminkan struktur sosial yang masih bias dan tidak adil.

“Media kita adalah cerminan dari masyarakat. Jika media masih menggunakan diksi yang merendahkan perempuan, itu artinya kita belum berhasil mengubah cara pandang publik,” katanya.

Namun, Yustin mengakui bahwa media juga adalah entitas bisnis yang mempertimbangkan sisi ekonomi. Kendati begitu, menurutnya, bisnis yang tidak beretika adalah bisnis yang tidak bermartabat.

“Pemilik media harus punya kesadaran bahwa mereka menjalankan bisnis yang turut mempengaruhi demokrasi dan kesejahteraan masyarakat. Ketika selera masyarakat bergeser dan muak dengan pemberitaan yang seksis dan tidak adil, maka justru bisnis media yang beretika akan bertahan,” tegasnya.