Pelabelan seperti “janda” kerap digunakan secara tidak proporsional dalam berita tentang perempuan, sementara istilah seperti “duda” jarang disorot dengan cara yang sama.
Kondisi ini, menurut Yustin, menunjukkan bahwa media masih menjadi ruang di mana stereotip dan ketidaksetaraan dipelihara.
“Tantangannya sekarang adalah mengubah budaya. Kita butuh kesadaran kolektif dari reporter, redaktur, hingga pemilik media bahwa diksi dan narasi yang digunakan dalam pemberitaan memiliki dampak besar dalam membentuk opini publik dan mempertahankan atau mengubah status quo,” tambahnya.
Baca Juga: Gerbong Pejabat di Kejati Sultra Berganti, Dua Kajari Ikut Bergeser
Senada dengan Yustin, Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Sulawesi Tenggara, Nur Sada, mengatakan bahwa praktik pelabelan perempuan dalam pemberitaan harus menjadi refleksi bagi insan pers.
