"Ketika kami membuka Twitter, Selasa 8 November 2022 kemarin. Muncul cuitan itu dan mendapatkan respon dari berbagai kalangan masyarakat. Sehingga cuitan itu menimbulkan keresahan bagi masyarakat dan kami merasa terganggu," tegasnya.

Mereka sangat dirugikan sebab, ulama dan Ketua Umum PBNU dituding telah berbuat yang tidak benar.

"Kami dituduh pembenci Habaib. Padahal, sesungguhnya kiai atau Ketum kami adalah orang atau sosok yang amanah dan penyayang bagi semua golongan. Jadi, cuitan itu penuh dengan kebohongan," tuturnya.

Selain itu, mengenai sebutan pembenci Habaib. Itu jelas tidak benar, sebab didalam PBNU, mulai dari pengurus sampai anggota banyak yang Habaib.

"Jadi, mengenai adanya postingan itu dan laporan dari Pengurus Wilayah Gerakan Pemuda Ansor dan Pengurus Wilayah Nahdatul Ulama Provinsi Sumatera Utara. Meminta agar pihak kepolisian menindaklanjuti laporan kami ini," tambahnya.