Alat ini masih dalam tahap pengembangan. Rencananya pekan ini akan diuji coba kepada pedagang di sebuah pasar di Bangkok.

Mengetahui hal ini, para pedagang di pasar Bangkok merasa antusias. Menurut mereka tes ini lebih nyaman dari tes swab lewat lubang hidung.

"Dengan tes PCR saya harus berada di laboratorium tempat pengujian, duduk, dan menunggu hasilnya dan itu hanya membuang waktu saya," ujar salah satu penjual.

Di Indonesia sendiri, profesor dari Institut Teknologi Sepuluh November pernah mengembangkan alat screening COVID-19 melalui bau keringat (axillary sweat odor). Alatnya disebut i-nose c-19.

Cara kerjanya adalah mengambil sampel dari bau keringat ketiak seseorang dan memprosesnya menggunakan artificial intelligence atau kecerdasan buatan. Hasil screening ini bisa didapatkan dengan waktu 2 sampai 3 menit. (C)