Selama bertani ia pernah mengalami kegagalan. Akhirnya ia belajar budidaya pertanian. "Belajar lebih memaknai kalau manusia ini sangat bergantung alam," kata Raffy, yang sempat bergabung dengan Sekolah Tani Muda di akhir masa kuliahnya.

Baca juga: Pemkot Kembangkan Bungkutoko Menjadi Kampung Kerang

Dari komunitas itu, ia banyak belajar kepada para petani dan praktisi mengenai cara menanam dan membuat pupuk.

Akhirnya, proses penggarapan lahan di samping jalan itu ia lakukan sendiri selama sebulan. Mulai dari mencangkul, menabur benih, merawat, memanen hingga menjualnya ke tukang sayur. Hasil dari penjualan sayur itu cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Dan sebagian hasilnya untuk membeli pupuk dan benih.

Sejak jadi petani selama empat bulan hidupnya lebih tenang dan bahagia. "Hidup tidak hanya sekadar untuk mengumpulkan, tetapi juga bisa terus berbagi lewat hasil tani," ungkapnya.