Ia menambahkan, ini juga berkaitan dengan fasilitas yang diberikan dalam dunia pendidikan. Apalagi saat terjadi pandemi COVID-19 kemarin, yang mengharuskan pembelajaran secara online.

Permainan tradisional ini juga tidak diperkenalkan atau dipromosikan oleh lingkungan sekitar, seperti keterlibatan pemerintah daerah dan masyarakat. Terbukti saat pelaksanaan 17 Agustus, permainan ini tidak diperkenalkan dan tidak diperlombakan.

Padahal permainan tradisional merupakan bagian dari identitas suatu suku bangsa. Kehadirannya pun memiliki makna dan manfaat tertentu.

Ketua Jurusan Antropologi Universitas Halu Oleo, La Ode Topo Jers, menjelaskan bahwa, permainan tradisional memiliki nilai-nilai filosofis yang di dalamnya terdapat pelajaran-pelajaran tertentu.

“itu sebenarnya bukan sebatas menunjukkan sebuah permainan saja, tapi uji ketangkasan juga, bagaimana kita membidik yang tepat, kan gitu. Secara psikologisnya, dia menguji pusat konsentrasi,” ungkapnya saat ditemui di kampus UHO, Selasa (19/12/2023).