Orang dewasa saja ketika ingin memutuskan suatu hal yang fatal pasti berpikir panjang terlebih dahulu, menimbang dampak positif dan negatifnya. Jika hal ini sudah merasuki pemikiran anak-anak, maka negara telah mengalami fase darurat anak karena masa depan pemudanya mengalami pemerosotan mental dan kepribadian.
Kasus ini ternyata tidak terjadi sekali ini saja. Sebagaimana diberitakan oleh media Liputan6 (4/2/26) membahas tentang anak berinisial YBS (10) siswa SD kelas IV asal NTT yang mengakhiri hidupnya dengan gantung diri di pohon karena tidak dipenuhi keinginannya untuk membeli buku dan pensil. Sebelum mengakhiri hidupnya, korban sempat menulis sepucuk surat yang disinyalir adalah tulisannya sendiri yang ditujukan kepada ibunya.
Ada juga kasus serupa menimpa anak di kebumen pada 2023. Dia mengakhiri hidupnya dengan menyeburkan diri di sungai dikarenakan tidak diberi sejumlah uang jajan yang dia minta.
Dua kasus yang beredar akhir-akhir ini bukan fenomena semata, tetapi sudah pada titik kegawatdaruratan dari kepribadian serta mental anak di Indonesia.
Di sisi lain, seperti yang diwartakan Tirto (4/2/26) KPAI mengungkapkan anak mengakhiri hidup dengan mayoritas alasan perundungan, pengasuhan, ekonomi, game online serta asmara. Oleh karenanya, kasus ini harus diusut tuntas agar anak tebebas dari stigma negatif.
